TAFSIR FUNDAMENTALIS (Studi Kritis Pemahaman Imam Samudra terhadap Jihâd dalam Qs. Al-Taubah /9: 36)

  • Umar Samsudin Institut PTIQ Jakarta
Keywords: Tafsir fundamentalis,, metode muqârin,, jihad,, qitâl

Abstract

Abstrak: Setiap penjelasan yang dijadikan sandaran penganut gerakan keagamaan bersifat kolot dan reaksioner selalu merasa perlu kembali ke ajaran agama yang asli seringkali disebut tafsir fundamentalis. Kesesuaian seperti tersurat di kitab suci dengan metode penafsirannya biasanya juga disebut tafsir fundamentalis. Metodenya, menafsirkan ayat secara muqârin terkait penafsiran ayat al-Qur’an yang bertujuan membuktikan bahwa antara satu pendapat ulama dengan lainnya tidak bertentangan. Penafsiran ini mengalami pergeseran dari pra modern ke kontemporer. Fundamentalisme Wahabi contohnya, mulanya seringkali menghasilkan klaim tafsiran seperti bid’ah, khurâfat dan tahâyyul terkait hal-hal yang mungkin masih dianggap sebagai ajaran agama. Sementara masa modern, produk tafsirannya bergeser pada sikap anti Barat dan pemerintahan. Kenyataan itu muncul pada Fundamentalisme Imam Samudra, sangat dipengaruhi oleh ‘sikap Negara Barat terhadap negara-negara tertentu’ yang dianggap menindasnya. Pemahaman yang dikonstruksi, sepertinya tidak menggunakan metode tafsir ayat dan tidak berdasarkan pendekatan pendapat para ulama. Sehingga, baginya, kata Musyrikîn di al-Qur’an ditafsirkan sebagai penyembah berhala, dengan maksud menunjuk hidung orang-orang Amerika (Barat), dan menabuh genderang qitâl yang berarti jihâd, dan karenanya mereka harus diperangi. Ia juga bersikap bermusuhan dengan semua yang menolak pandangannya melalui penyangkalan terhadap semua kebaikan yang ada di non Islam. Padahal, bukankah mayoritas para ulama tidak menyebutkan arti Qitâl sebagai jihâd dan kata Musyrikîn sebagai orang-orang Barat.

  

Abstract: The term ‘fundamentalism’ has come to mean any religious group including Islam rigidly resisting change in the modern world. In Islam, exegesis of Qur’an has concentrated on explaining the text from a wide variety of perspectives and just to mention one is explaining Qur’an in literal meaning which is called as ‘fundamentalist’. When applied to Islam, it is often understood as synonymous with terrorism, and, for this and all of its other pejorative meanings, many reject its applicability to Islam.  Some scholars see fundamentalism as part of an ongoing reformist action in Islamic history, while others see it as a purely modernist movement. In Indonesia, the attitude of few muslims, like Imam Samudra was stimulated by western country seems not using this method of exegesis and muslim scholars thought. The word ‘musyrik’ that tent to paganism is directed to Americans (western people), so that a fight againts them (jihad) is a must.

Published
2018-11-28