MEMAHAMI MAKNA HADIS SECARA TEKSTUAL DAN KOTEKSTUAL

  • Zulfarijal Zulfarijal Institut PTIQ Jakarta
Keywords: Hadis, Tekstual, Kontekstual

Abstract

Abstrak: Memahami hadis merupakan bagian yang paling rumit, karena hadis adalah segalasesuatu yang dinisbatkan pada Nabi Muhammad saw., baik ucapan, perbutan maupun ketetapannya dalam statusnya sebagai utusan Allah swt., sehingga mengimitasinya merupakan perwujudan konsensus agung. Karena ia rasul akhir zaman, berarti aturannya pun untuk sepanjang zaman, padahal kenyatannya ia hidup pada waktu tertentu dan zaman tertentu pula. Maka sudah seharusnya pula memahami hadis, tidak hanya melalui pendekatan tekstual ansich apabila menginginkan agar hadis senantiasa berlaku sepanjang zaman dan di manapun tempat (Shâlihun li Kulli Zamân wa li Kulli Makân), mengingat problem kehidupan dewasa ini semakin kompleks. Oleh karena itu, perlu dalam memahaminya perlu dilakukan pendekatan secara kontekstual. Ini berarti, memahami hadis atau sunnah dengan mengacu pada latar belakang, situasi dan kondisi serta kedudukannya ketika hadis atau sunnah tersebut disabdakan (qauliyah), ditetapkan (taqrîrîyah), dilakukan atau disaksikan (af’âliyah).

 

Abstract: In religious term, hadith is often translated as ‘tradition’ meaning a report of the deeds and saying of the prophet Muhammad PBUH and his companions. Hadith is everything attributed to the prophet Muhammad PBUH as a messanger of Allah SWT. As the last prophets in the world, the rules that the prophet Muhammad PBUH brought was for all the time. That’s why, contextual approaches on hadith is needed nowadays to overcome any modern problems (Shâlihun li Kulli Zamân wa li Kulli Makân). Contextual approaches means investigating hadith refers to any situation based on prophet sayings (qauliyah), act (af’aliyah), and tacit approval (taqririyah).

Published
2018-11-28